Selasa, 10 Desember 2019

Metode Melahirkan Ala Maryam, Apa dan Bagaimana Praktiknya?


Bunda, tentu semua ibu ingin melahirkan buah hatinya secara normal tanpa operasi. Meskipun proses melahirkan itu menjadi pertaruhan nyawa Bunda semua. Saya yakin Bunda setuju dengan hal itu. Sebagai kabar gembira bagi Bunda semua, kini ada metode melahirkan yang belakangan di media sosialramai diperbincangkan. Metode atau teknik melahirkan yang dimaksud adalah melahrikan ala Maryam. Teknik ini diklaim membantu ibu melahirkan dengan minim cedera dan tidak terlalu sakit.

Salah satu pengguna facebook menuliskan dalam statusnya:

Melahirkan tanpa robek?

Ternyata posisi melahirkan umumnya sekarang kurang tepat. Itulah kenapa proses melahirkan normal kebanyakan disertai dengan robekan.

Pengobatan Akhir Zaman yang diterapkan di Klinik Bersalin Klaten sudah membuktikannya, bahwa dengan konsep melahirkan ala Maryam ibunda nabi Isa as., melahirkan menjadi lebih mudah, tidak terlalu sakit, dan tanpa jahitan.

Menurut praktisi Persalinan Maryam (PM) Mugi Rahayu, AmdKeb, SFil, MPH teknik ini mulai berkembang dan disukai para ibu pada 2012 hingga menjadi sebuah buku. Hal yang ditonjolkan dalam PM adalah persiapan psikis dan fisik ibu hamil menghadapi persalinan yang disertai rasa sakit. Ibu juga bisa memilih posisi melahirkan yang dirasa aman dan nyaman, karena berbaring bukan satu-satunya pilihan.

"Banyak berkembangnya metode persalinan membuat saya menyusun konsep PM ini. Saya membuat pelatihan PM dengan materi nutrisi sunnah, senam Maryam yang diilhami dari gerakan sholat, persiapan psikis. Untuk persiapan psikis kami punya motto tak pernah mengkhawatirkan rasa sakit dan melahirkan keshalihan. Untuk posisi bersalin, ibu bisa memilih jongkok, miring kiri, nungging atau sujud sesuai kondisi yang dialaminya," kata Mugi yang berpraktik di Kabupaten Sleman, Yogyakarta dalam email yang diterima detikHealth.

Menurut Mugi, setiap ibu unik dan mempunyai kebutuhan yang berbeda sehingga harus dilayani sesuai keperluannya. Proses bersalin sendiri sebetulnya adalah hal yang bersifat alami bukan karena bidan, dokter, gerakan, atau obat tertentu. Selama bersalin, ibu akan terus ditemani bidan serta suami yang terus memberi semangat, doa, serta asupan nutrisi jika diperlukan. Metode ini memperbolehkan ibu melahirkan dengan posisi jongkok.

Catatan Penting dari Dokter Kandungan

Terkait teknik PM, dokter ahli kandungan Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG(K) mengatakan, metode tersebut sebetulnya boleh saja dicoba ibu hamil. Menurut pengamatannya, metode terbilang aman karena tidak mengintervensi kandungan dan bersifat promotif, yang mengingatkan ibu makan sehat, olahraga, dan memperkuat kondisi emosi dan mental.

Namun, dr Dwiana memiliki catatan soal posisi bersalin yang sebaiknya dilakukan ibu hamil. Menurutnya, posisi berbaring sampai saat ini masih menjadi yang paling disarankan saat ibu hendak bersalin. Apalagi jika ibu baru kali pertama melahirkan buah hati, bukan kedua apalagi ketiga atau keempat.

"Silahkan jika ingin jongkok atau posisi lain, tapi biasanya ibu capek makanya kita sarankan berbaring. Jangan dipaksa dengan satu posisi sesuai dengan konsep sayang ibu. Hingga saat ini, riset masih menyarankan posisi ibu saat bersalin sebaiknya berbaring. Terlebih jika ibu baru kali pertama bersalin," kata dr Dwiana.

Bagi ibu yang hendak memiliki anak pertama, posisi berbaring memungkinkan perineum ibu tidak robek terlalu besar saat bersalin. Perineum adalah area kulit antara vagina dan dubur yang dapat robek atau sengaja digunting sebagai jalan lahir. Perineum menjadi lebih lebar bagi ibu yang melahirkan lebih dari 3-4 kali.

Dengan posisi berbaring, dasar tulang panggul ibu tidak mudah lunak sehingga peranakannya tak gampang turun. Di masyarakat awam kondisi ini kerap disebut turun berok. Selain itu, tenaga kesehatan lebih mudah menolong ibu dan janin selama persalinan. Misal membersihkan jalan lahir, menolong janin, atau menjahit kembali bagian yang robek saat melahirkan.

Sumber: health.detik.com/
Disqus Comments